Suku dengan Tradisi yang Ekstrem, Berburu Kepala Manusia hingga Potong Jari

Reza Rizki Saputra ยท Jumat, 02 September 2022 - 18:40:00 WIB
Suku dengan Tradisi yang Ekstrem, Berburu Kepala Manusia hingga Potong Jari
Suku dengan tradisi yang ekstrem telah ada sejak zaman dahulu di Tanah Air, salah satunya suku dayak. (Foto: pro.kutaitimur.go.id)..

3. Suku Naulu 

Merupakan suku yang mendiami pedalaman Pulau Seram, Maluku. Memiliki tradisi memenggal kepala manusia sebagai persembahan. Suku Naulu tersebar di dua dusun, yaitu Dusun Nuanea dan Dusun Sepa. Salah satu yang khas dari suku Naulu, yaitu ikat kepala berwarna merah atau kain berang. 

Tradisi memenggal kepala ini telah dilakukan sejak zaman dulu, ketika perang antarsuku masih marak terjadi. Selain itu, raja-raja dari suku Naulu zaman dulu menggunakan tradisi ini untuk memilih menantu laki-laki serta melakukan ritual Pataheri. 

Pataheri merupakan ritual meresmikan kedewasaan seorang laki-laki. Tradisi yang awalnya telah hilang di awal 1900-an ini kembali berlanjut hingga 1940-an. Namun, saat ini tradisi ekstrem tersebut tidak terdengar lagi. 

Ritual Pataheri yang masih dilakukan hingga saat ini, persembahannya diganti dengan burung kuskus.

4. Suku Bali 

Memiliki tradisi Makare-kare, berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Dalam tradisi ini, laki-laki dari desa akan melakukan pertunjukkan perang dengan menggunakan daun pandan berduri sebagai senjata serta perisai rotan untuk menangkis serangan lawan. 

Tradisi perang pandan ini merupakan bagian dari ritual pemujaan masyarakat Tenganan kepada Dewa Indra. Setelah selesai ritual ini, semua luka yang dialami peserta akan diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit yang dipercaya ampuh menyembuhkan luka dengan cepat.

5. Masyarakat Sumba Barat

Dilansir dari laman Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, tradisi pasola berasal dari sola atau hola yang berarti kayu lembing. Pasola merupakan tradisi perang adat antardua kelompok penunggang kuda yang saling berhadapan dan saling menyerang menggunakan lembing kayu. 

Darah yang jatuh di arena pasola ini oleh masyarakat setempat dipercaya mampu membuat tanah menjadi subur sehingga hasil panen berlimpah.

6. Suku Madura

Memiliki salah satu tradisi yang bernama Carok yang berarti upaya pembunuhan sebagai balas dendam terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Namun, Carok dalam tradisi ini lebih memiliki makna berbeda di mata masyarakat Madura karena hal ini merupakan pemulihan harga diri bagi orang yang telah merasa direndahkan.

Carok merupakan tradisi, yakni seseorang akan bertarung dengan menggunakan senjata celurit untuk menyelesaikan masalah tertentu. Biasanya, permasalahan yang sering dipertarungkan berkaitan dengan harta, tahta hingga soal perempuan. 

Bagi sebagian masyarakat Suku Madura, hal ini dianggap wajar walaupun harus membahayakan keselamatan mereka.

7. Suku Toraja

Memiliki salah satu tradisi yang bernama Tradisi Ma'Nene. Merupakan kegiatan membersihkan jasad para leluhur yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. 

Meskipun sudah tidak terlalu banyak masyarakat yang melakukan tradisi ini, namun di beberapa desa seperti Desa Pangala dan Desa Baruppu yang masih melaksanakan tradisi tersebut secara rutin. 

Bagi masyarakat yang ada di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, seseorang yang meninggal tidak benar-benar pergi. Tubuh mereka secara alami diawetkan di gua-gua selama upacara besar. 

Setahun sekali, dalam tradisi Ma'Nene, jenazah orang yang meninggal dibawa pulang ke rumah dimandikan, didandani dan dirapikan sebelum dibawa berkeliling desa seperti orang hidup berjalan sendiri. 

8. Suku Mentawai

Bagi Suku Mentawai, kecantikan perempuan dapat diukur dari gigi runcing. Di Suku Mentawai ada yang namanya tradisi Kerik Gigi.

Tradisi ini sebenarnya memiliki makna untuk mengendalikan diri dari enam sifat buruk manusia yang sudah tertanam sejak dulu, atau yang dikenal dengan nama Sad Ripu. 

Enam sifat buruk ini merupakan hawa nafsu (Kama), tamak (Lobha), marah (Krodha), mabuk (Mada), iri hati (Matsarya), dan bingung (Moha).

Masyarakat Suku Mentawai percaya, perempuan yang memiliki gigi runcing seperti hiu memiliki nilai lebih dibandingkan yang tidak bergigi runcing. Alat yang digunakan terbuat dari besi atau kayu yang sudah diasah hingga tajam. 

Proses ritual ini menyakitkan, sehingga sebelum proses biasanya perempuanSuku Mentawai menggigit pisang hijau. Proses kerik gigi dilakukan oleh ketua adat.

Editor : Kurnia Illahi

Follow Berita iNewsKaltim di Google News

Bagikan Artikel: