Harga TBS Kelapa Sawit Naik, Petani Peroleh Rp12 Juta Sebulan

Antara ยท Sabtu, 19 Maret 2022 - 21:27:00 WIB
Harga TBS Kelapa Sawit Naik, Petani Peroleh Rp12 Juta Sebulan
Kelapa sawit (Foto: Antara)

KUTAI KARTANEGARA, iNews.id - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini mengalami kenaikan. Hal ini membuat para petani kelapa sawit bisa memperoleh pendapatan hingga Rp12 juta per bulan.

"Alhamdulillah, sebulan bisa Rp12 juta kalau mau ambil tiap hari. Di pengepul TBS harganya Rp2.800 per kg. Sebelumnya hanya Rp2.400 per kg sampai Rp2.500 per kg," ungkap Wisnu salah satu petani sawit di Desa Prangat Selatan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (19/3/2022).

Wisnu mengatakan apabila kelapa sawit hasil panen dibawa ke pabrik harganya akan lebih mahal, bisa mencapai Rp3.000 per kg lebih.

"Tapi bawanya pakai truk, ke Muara Badak yang paling dekat dari sini. Kalau dibawa ke Jonggon (Kutai Kartanegara) lebih mahal lagi," jelasnya.

Wisnu mengaku, belum pernah menjual dengan harga Rp3.000 per kg. Namun dalam sehari ia bisa menghasilkan Rp400.000 dari luas lahan 1,5 hektare dengan seratus lebih pohon miliknya. 

"Rp400.000 itu kira-kira satu kuintal setengah. Kalau pakai motor dua kali bolak-balik jadi modal bensin Rp50.000," tuturnya.

Dia menjelaskan, jarak dari rumah menuju kebun kelapa sawit miliknya sekitar 5 km sehingga jika bolak-balik menjadi 10 km.

"Dua kali narik jadi 20 kilometer dengan kondisi jalan rusak dengan motor yang harus dimodif," terangnya.

Dia mengatakan sebelum TBS naik, harga kelapa sawit sempat hanya sekitar di harga Rp500-Rp700 per kg.

"Pada waktu itu orang belum berminat ke kelapa sawit. Disuruh ngambil aja nggak ada yang mau," tutupnya.

Sementara itu, penyadap karet yang juga tinggal di Prangat Selatan, Kalimantoro menambahkan hasil kelapa sawit lebih menguntungkan saat ini

"Memang karet lebih tinggi Rp10.000 per kg tapi susah nyari sekilo. Satu hektare paling 10 kg Rp100.000, sebulan Rp3 juta jadinya," kata Kalimantoro.

Hal ini berbeda jauh dengan kelapa sawit yang mencapai Rp12 juta dengan perbandingan kerja yang lebih ringan.

"Kalau karet harus keliling satu-satu menyadap pohonnya, lebih capek, belum lagi kalau hujan hancur getahnya jadi air," ucapnya.

Sebagai informasi, petani di Marangkayu umumnya memiliki lahan sawit dan karet sekaligus. Apabila harga sawit tidak setinggi sekarang, kemungkinan petani akan kembali beralih menyadap karet.

Editor : Dita Angga Rusiana

Bagikan Artikel: