get app
inews
Aa Text
Read Next : Kisah Pilu Pelajar Meninggal karena Sepatu Kekecilan, Ibu Jualan Kue Ayah Telah Tiada

Tangis Penyesalan Ibunda Mandala Rizky, Tak Mampu Penuhi Permintaan Sepatu Terakhir Sang Anak

Rabu, 06 Mei 2026 - 13:05:00 WIB
Tangis Penyesalan Ibunda Mandala Rizky, Tak Mampu Penuhi Permintaan Sepatu Terakhir Sang Anak
Tangis Ratnasari pecah saat mengenang Mandala Rizky, anaknya yang meninggal dunia setelah memakai sepatu kekecilan karena keterbatasan ekonomi keluarga. (Foto: iNews TV/ARDI WIRIYA)

SAMARINDA, iNews.id - Duka mendalam menyelimuti keluarga Mandala Rizky Syaputra (16), pelajar SMK di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, yang meninggal dunia setelah mengalami sakit berkepanjangan diduga akibat memakai sepatu kekecilan. Di tengah suasana rumah duka, tangis sang ibunda Ratnasari, pecah saat menceritakan perjuangan hidup anaknya yang selama ini memilih menahan keinginan demi kondisi ekonomi keluarga.

Ratnasari mengaku masih dihantui rasa penyesalan karena belum mampu membelikan sepatu baru untuk putranya. Di tengah keterbatasan hidup sebagai ibu tunggal, dia hanya bisa bertahan dengan berjualan kue keliling demi menghidupi anak-anaknya.

Ratnasari mengenang sang anak, Mandala selama ini selalu menahan keinginan demi tidak membebani orang tuanya. Bahkan hingga akhir hayatnya, Mandala tetap memilih mengutamakan kebutuhan keluarga dibanding dirinya sendiri.

"Kalau dibilang ibunya tak menyesal itu salah, mereka tidak tahu. Kita mengandung sampai umurnya segitu, siapa sih orang tua yang tidak mau, keinginan terakhirnya anak tidak bisa mengadakan. Anak-anakku juga sama, dia tidak mau merepotkan orang tua," ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Tangis Ratnasari semakin pecah saat mengingat permintaan terakhir Mandala yang belum sempat terpenuhi. Sang anak sempat meminta sepatu baru. 

"Dia bilang, Ma Insya Allah ini masih muat sama Mandala. Insya Allah kalau nanti Mandala selesai PKL, Mandala bisa beli sendiri," katanya.

Mandala diketahui merupakan anak yatim yang tinggal bersama ibu dan empat saudaranya di Samarinda. Sejak ayahnya meninggal dunia, Ratnasari menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan risoles, dadar gulung, dan klepon keliling.

"Risol isi sayur, sama dadar gulung, sama klepon pakai keranjang. Kalau pagi saya jalan habis subuh sampai tergantung habisnya, tapi jam tujuh kurang harus sudah pulang karena kan anak mau sekolah," ujarnya.

Karena keterbatasan ekonomi, Mandala tetap memakai sepatu lama sejak kelas satu SMK. Sepatu itu bahkan ditambah busa agar masih bisa dipakai meski ukuran kakinya terus bertambah.

Ratnasari menyebut anaknya tidak pernah ingin merepotkan keluarga.

"Dia bilang gak mau nyusahin. Gak usah diganti ma, itu untuk keperluan di rumah, dia utamakan kebutuhan di rumah," ucapnya.

Kondisi kaki Mandala mulai bermasalah saat menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di sebuah pusat perbelanjaan. Aktivitas berdiri dalam waktu lama diduga memperparah pembengkakan pada kakinya.

Meski mulai merasakan sakit, Mandala hanya mengeluh ringan kepada ibunya.

"Dia pernah mengeluh waktu magang tapi hanya bilang kakinya pegal," ujarnya.

"Dia hanya bilang buat apa ma bawa Mandala ke rumah sakit, Mandala gak sakit. Sakit kaki Mandala pegal-pegal aja," katanya lagi.

Seiring waktu, rasa sakit yang awalnya hanya di kaki mulai menjalar hingga ke pinggang dan kepala. Namun Mandala tetap berusaha menjalani aktivitas seperti biasa hingga kondisinya semakin memburuk.

Ratnasari mengaku sesak dada setiap kali mengingat kondisi putranya sebelum meninggal dunia.

"Saya bilang sama teman saya, saya udah gak kuat sebenarnya, rasa penyesalan dada saya sesak. Siapa sih yang mau lihat anak terus kita gak bisa membelikan sepatu. Datang orang menyumbang sepatu, gak ada. Saya udah gak kuat," katanya.

Di tengah keterbatasannya, Ratnasari bahkan mengaku baru belajar menggunakan telepon genggam pintar dari anak-anaknya.

"Saya juga ini baru belajar main HP, diajari anak saya yang usia 7 tahun," ucapnya.

Mandala akhirnya meninggal dunia sehari setelah sempat mendapat penanganan di klinik akibat pembengkakan pada kakinya. Kepergian remaja tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Pihak sekolah turut membantu proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah, termasuk menyediakan ambulans untuk keluarga korban.

Editor: Donald Karouw

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut